Batik Gumelem Bertahan dari Pesanan

ORANG mengenal Banjarnegara mungkin karena buah salak pondoh atau minuman khas dawet ayu. Tak banyak orang tahu bahwa daerah ini mempunyai kekayaan batik tulis yang unik dan khas.

Sejak jaman kademangan dulu, sekitar tahun 1573, batik gumelem adalah salah satu kebanggaan yang terpelihara dengan baik. Sampai tahun 1965 dunia perbatikan itu masih cerah.


Kekayaan budaya itu diturunkan dari generasi ke generasi. Namun setelah tahun 1965, batik itu makin tenggelam seiring dengan pengaruh zaman kademangan yang memudar. Tak pelak, para pembatik pun terguncang. Untuk bertahan hidup, mereka beralih pekerjaan.

Martini, warga Desa Gumelem Wetan, tergerak menghidupkan lagi batik gumelem. Dia memulai usaha sejak tahun 1970-an dengan pesanan sangat terbatas. Mungkin karena harganya tak terjangkau kantong warga masyarakat bawah, usaha itu mengalami pasang surut.

"Baru tahun 1999 saya melanjutkan lagi usaha Ibu yang kembang- kempis itu,'' kata Sutirah Setiabudi, anak Martini.

Belum Banyak

Saat ini ada ekitar 24 perajin batik asli Gumelem menyandarkan hidup pada usahanya. Kebanyakan mereka warga Dusun Dagaran, Desa Gumelem Wetan, Kecamatan Susukan, Banjarnegara.

''Kami punya corak khas udan liris dan rujak senthe yang terpelihara secara turun-temurun,'' ujar Sutirah.

Perajin batik tulis itu tak terkonsentrasi di Gumelem Wetan. Di Desa Gumelem Kulon dan Penarusan pun ada sekitar 20 perajin. Mereka terbiasa melayani pesanan para kolektor baik dari luar maupun dalam kota.
''Daerah transmigran di Sulawesi dan beberapa instansi di eks Karesidenan Banyumas pernah memesan kemari. Umumnya untuk seragam dinas pegawai. Namun sayang dari Banjarnegara malah belum banyak,'' kata Sutirah.
Dia mengakui hanya mengandalkan diri dari pesanan. Padahal, dalam sebulan bisa saja tak ada pemesan. Tak jarang para perajin dari desa lain menjual batik kepada dia.

Jika ramai dia bisa menerima 100 lembar kain. Namun saat sepi tak jarang perajin menjajakan sendiri katya mereka. Mereka pernah membentuk koperasi, tetapi sampai saat ini belum memiliki dana operasional. Bahkan AD/ART pun belum mereka rumuskan. ''Jika sudah demikian, mau apalagi?''

Harga jual selembar kain batik panjang 240 cm dan lebar 105 cm Rp 80.000 dan panjang 275 cm dan lebar 105 cm antara Rp 100.000 dan Rp 300.000. Adapun bahan baju mereka jual Rp 75.000 dan taplak Rp 40.000.

Para perajin menerima upah antara Rp 80.000 dan Rp 100.000/bulan. ''Jika sepi pesanan, kami kembali ke sawah. Kami juga tak lagi bisa membiayai sekolah anak'' ujar Warsiyem (45). Perajin batik dari Desa Gumelem Wetan, ibu tiga anak, itu biasanya menyelesaikan empat-lima helai kain batik sebulan. (M Syarif SW-53)
http://www.suaramerdeka.com/harian/0506/13/ban07.htm

 

Fast Respon

Telepon/SMS/WA: 081333102020
BBM: 7A15EEAC

Cek resi pengiriman

Translate